Buah Impor Masih Dominasi Pasar
Denpasar (BisnisBali) –Komoditi buah-buahan
baik buah impor maupun produksi dalam negeri, terus membanjiri
pasar.
Namun, hingga memasuki April 2007 ini, buah-buahan impor
masih mendominasi pasar atau mencapai 60-70 persen dari
total perdagangan buah yang ada di kawasan Denpasar dan
sekitarnya.
Menurut kalangan pedagang, dominasi buah-buahan impor tersebut
disebabkan oleh pengadaannya yang bersifat kontinu tidak
terpengaruh oleh musim.
Sementara buah-buahan dalam negeri sangat bergantung pada
musim. Demikian pula dari segi penampilan, buah impor juga
jauh lebih menarik ketimbang bual lokal.
“Faktor tersebut merupakan penyebab utama yang membuat
buah lokal agak terpinggirkan,” kata salah seorang
pedagang Ni Ketut Sukerti ketika diminta menanggapi kondisi
pemasaran buah lokal saat ini, di pasar Anyar Sari, Senin
(16/4) kemarin.
Berkaitan dengan desakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
agar masyarakat Indonesia mengurangi semaksimal mungkin
tingkat konsumsi buah-buahan serta berbagai produk pertanian
luar negeri, Sukerti mengatakan, hal tersebut memang sudah
seharusnya dilakukan karena kalau terus-terusan memburu
produk luar (impor) maka produk lokal akan kian terdesak.
“Imbauan serupa telah berulang kali ke luar dari
mulut pejabat pusat. Namun tetap saja belum ada hasilnya.
Mudah-mudahan kali ini membuahkan hasil karena yang menginstrukasikan
langsung desakan tersebut adalah kepala negara kita, Bapak
SBY,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Supervisor Moena Fresh, Ni Wayan
Suwidni. Dia mengatakan, setidaknya ada tiga faktor yang
membuat buah impor tetap dicari konsumen.
Pertama dari segi wajah, buah impor rata-rata memiliki
penampilan menarik lantaran variasi warna ngejreng pada
kulit buah. Kedua dari segi cita rasa, terasa manis dan
agak gurih.
Ketiga mudah dicari, karena buah impor bisa ditemukan
kapan saja. Sementara buah lokal walau dari segi kualitas
sudah bisa mengimbangi, dari segi penampilan masih kalah.
Begitu pula terkait ketersediaan di pasaran, kadang-kadang
ada dan kadang-kadang tidak ada sama sekali sehingga tidak
bisa diandalkan.
“Dua faktor yang terakhir inilah yang menjadi titik
lemah dan kerap dijadikan alasan oleh konsumen untuk berkelit
dari buah lokal,” jelasnya.
Suami Ngakan Nyoman Artawan ini walau pasaran buah di Bali
dinominasi buah impor, dia melihat sudah ada pergeseran
pola pikir di tingkat konsumen. Semula perbandingan pemanfaatan
buah impor dan lokal 70:30 persen, kini sudah 60:40 persen
dan saat musim panen bisa berbalik menjadi 40:60 persen.
“Mudah-mudahan penanaman konsep ajeg Bali yang ramai
diwacanakan belakangan ini menjadi tonggak bersejarah bagi
kebangkitan buah lokal,” harap Suwidni.
Ketika BisnisBali mencari tahu, berapa sebenarnya volume
buah impor masuk Bali per harinya, pihak Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Bali mengaku sejak dulu belum pernah menerima
data dari para importir. Kemungkinan besar buah impor tersebut
dibongkar di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan dari
sana lalu dipasarkan ke Bali lewat perdagangan antarpulau.
“Kami tidak punya data impor buah karena importirnya
sendiri tidak pernah melaporkan,” kilah petugas setempat.
Buah impor yang masih tetap dijual baik di pasar tradisional
maupun supermarket di antaranya, anggur Australia, apel
New Zaeland, apel Amerika, durian Monthong, lengkeng Cina
dan Thailand, sankis, pear dari Cina dan Korea.
Sedangkan untuk komoditi buah dalam negeri terdiri dari
: jeruk Lumajang, jeruk Kintamani, melon, semangka, pepaya,
pisang, nanas, manggis, duku, mangga, mangga putih, anggur
produk Buleleng dan lain-lainnya. *cip