17 April 2007  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi

Buah Impor Masih Dominasi Pasar
Denpasar (BisnisBali) –Komoditi buah-buahan baik buah impor maupun produksi dalam negeri, terus membanjiri pasar.

Namun, hingga memasuki April 2007 ini, buah-buahan impor masih mendominasi pasar atau mencapai 60-70 persen dari total perdagangan buah yang ada di kawasan Denpasar dan sekitarnya.

Menurut kalangan pedagang, dominasi buah-buahan impor tersebut disebabkan oleh pengadaannya yang bersifat kontinu tidak terpengaruh oleh musim.

Sementara buah-buahan dalam negeri sangat bergantung pada musim. Demikian pula dari segi penampilan, buah impor juga jauh lebih menarik ketimbang bual lokal.

“Faktor tersebut merupakan penyebab utama yang membuat buah lokal agak terpinggirkan,” kata salah seorang pedagang Ni Ketut Sukerti ketika diminta menanggapi kondisi pemasaran buah lokal saat ini, di pasar Anyar Sari, Senin (16/4) kemarin.
Berkaitan dengan desakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar masyarakat Indonesia mengurangi semaksimal mungkin tingkat konsumsi buah-buahan serta berbagai produk pertanian luar negeri, Sukerti mengatakan, hal tersebut memang sudah seharusnya dilakukan karena kalau terus-terusan memburu produk luar (impor) maka produk lokal akan kian terdesak.

“Imbauan serupa telah berulang kali ke luar dari mulut pejabat pusat. Namun tetap saja belum ada hasilnya. Mudah-mudahan kali ini membuahkan hasil karena yang menginstrukasikan langsung desakan tersebut adalah kepala negara kita, Bapak SBY,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Supervisor Moena Fresh, Ni Wayan Suwidni. Dia mengatakan, setidaknya ada tiga faktor yang membuat buah impor tetap dicari konsumen.

Pertama dari segi wajah, buah impor rata-rata memiliki penampilan menarik lantaran variasi warna ngejreng pada kulit buah. Kedua dari segi cita rasa, terasa manis dan agak gurih.

Ketiga mudah dicari, karena buah impor bisa ditemukan kapan saja. Sementara buah lokal walau dari segi kualitas sudah bisa mengimbangi, dari segi penampilan masih kalah. Begitu pula terkait ketersediaan di pasaran, kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak ada sama sekali sehingga tidak bisa diandalkan.

“Dua faktor yang terakhir inilah yang menjadi titik lemah dan kerap dijadikan alasan oleh konsumen untuk berkelit dari buah lokal,” jelasnya.
Suami Ngakan Nyoman Artawan ini walau pasaran buah di Bali dinominasi buah impor, dia melihat sudah ada pergeseran pola pikir di tingkat konsumen. Semula perbandingan pemanfaatan buah impor dan lokal 70:30 persen, kini sudah 60:40 persen dan saat musim panen bisa berbalik menjadi 40:60 persen.

“Mudah-mudahan penanaman konsep ajeg Bali yang ramai diwacanakan belakangan ini menjadi tonggak bersejarah bagi kebangkitan buah lokal,” harap Suwidni.
Ketika BisnisBali mencari tahu, berapa sebenarnya volume buah impor masuk Bali per harinya, pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali mengaku sejak dulu belum pernah menerima data dari para importir. Kemungkinan besar buah impor tersebut dibongkar di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan dari sana lalu dipasarkan ke Bali lewat perdagangan antarpulau.

“Kami tidak punya data impor buah karena importirnya sendiri tidak pernah melaporkan,” kilah petugas setempat.
Buah impor yang masih tetap dijual baik di pasar tradisional maupun supermarket di antaranya, anggur Australia, apel New Zaeland, apel Amerika, durian Monthong, lengkeng Cina dan Thailand, sankis, pear dari Cina dan Korea.

Sedangkan untuk komoditi buah dalam negeri terdiri dari : jeruk Lumajang, jeruk Kintamani, melon, semangka, pepaya, pisang, nanas, manggis, duku, mangga, mangga putih, anggur produk Buleleng dan lain-lainnya. *cip


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost