Denpasar
(BisnisBali) –Ibu Kota Indonesia (Jakarta)
tiap lima tahun sekali terjadi banjir. Berawal dari banjir
yang volumenya kecil kemudian terus meningkat. Sampai banjir
yang sekarang sedang melanda Jakarta dan sekitarnya sudah
dalam kondisi sangat besar (sampai ketinggian 4 meter). Bali
berpeluang terjadi banjir seperti di Jakarta. Hal ini terlihat
dari kondisi irigasi yang ada sekarang sudah tidak memiliki
standar lagi. Untuk menghindari terjadinya banjir, mesti dilakukan
pembenahan irigasi (saluran air) secara berkesinambungan.
Hal ini dikatakan Wakil Sekretaris II DPD Real Estat Indonesia
(REI) Bali, Ir. Wayan Suantra, Senin (19/2) kemarin. di Denpasar.
Menurut Suantra, jika Bali tidak ingin seperti kejadian banjir
di Jakarta, sudah saatnya berbenah melakukan tindakan penanggulangan
banjir. Penataan dan penanganan seperti ini mesti dilakukan
secara global. Artinya, untuk menangani dan menanggulangi
masalah banjir dilakukan secara sepotong-sepotong, maka permasalahan
tidak terpecahkan. Sebab, masalah perairan harus ditata mulai
hulu sampai ke hilir.
‘’Sekarang ini memang sudah ada penanggulangan
dan penataan saluran air, tetapi masih terpotong-potong. Terbukti,
dalam satu daerah/kawasan saja sudah tak tertata dengan baik.
Itu artinya, penanganan yang dilakukan baru sebagian dan terpotong-potong,’’
tegasnya.
Selain masalah irigasi, masing-masing kawasan memiliki daya
serap kecil. Sehingga datang air bah yang besar, kawasan tidak
mampu lagi menyerap air yang melebihi kapasitas. Hal lainnya
yang perlu mendapat perhatian serius, condetan sekarang ini
sangat minim, sehingga sering terjadi banjir.
‘’Permasalahan mengenai banjir adalah klasik.
Hampir tiap musim hujan terjadi banjir dan banyak masyarakat
yang menginginkan terjadinya penataan dan penanggulangan banjir.
Pemerintahlah satu-satunya tempat masyarakat berharap banyak
agar di Bali tidak terjadi banjir,’’ katanya.
Suantra mengatakan, banyak hal yang mudah dilakukan penataan
dan penanggulangan banjir di Bali. Salah satunya adalah, memperketat
proses perizinan. Misalnya, tiap ada pembangunan diwajibkan
mencari izin bangunan (IMB). Salah satu persyaratannya adalah
irigasi (saluran air). Jika memang ada kontrol dan pengawasan
ketat, maka diyakini mampu membantu agar tidak terjadi banjir.
Selain proses perizinan, pihak pemerintah perlu meniru sistem
irigasi subak. Sebab, sistem subak sudah teruji sejak nenek
moyang. Tetapi justru setelah terjadi perubahan ke zaman yang
lebih modern, sistem subak terabaikan.
‘’Sistem subak sangat bagus diterapkan dalam kondisi
seperti sekarang. Sistem subak akan mampu menanggulangi terjadinya
banjir. Ingat menata penanggulangan banjir tidak dapat dilakukan
oleh satu daerah atau kawasan. Perlu dibina koordinasi penanganan
bersama,’’ tandasnya. *sta