Gianyar
(BisnisBali) -Hampir selama satu tahun terakhir ini,
harga bahan baku kerajinan gambelan Bali (gong) terus mengalami
kenaikan di pasaran. Sampai saat ini harganya sudah dua kali
lipat bahkan lebih. Tembaga yang sebelumnya harganya Rp 12.000
per kg saat ini sudah mencapai Rp 60.000 per kg. Berarti naiknya
sudah lima kali lipat. Sementara bahan baku timah yang awalnya
Rp 60.000 per kg kini sudah mencapai Rp 120.000 per kg. Kenaikan
harga itu pun nyaris terjadi tiap hari, meski persentasenya
tidak begitu tinggi.
I Wayan Gableran, perajin gong, di Getasan Blahbatuh, Senin
(19/2) lalu menuturkan, semenjak terus naiknya harga bahan
baku pembuatan gong itu, permintaan mata dagangan kerajinan
tersebut makin menurun. Terutamanya untuk konsumen dalam negeri
(lokal Bali). Untuk konsumen luar negeri (ekspor) sudah merasa
sepi semenjak krisis ekonomi sehingga kondisi yang ada sekarang
ini, benar-benar membuat perajin menjadi terjepit. ‘’Kalau
menaikkan harga pembeli jelas tidak akan mau. Kalau tidak,
kami perajin akan bisa gulung tikar,’’ terang
Gableran sambil menambahkan, kondisi buruk yang terjadi sekarang
ini hampir dialami seluruh perajin gong yang ada di Bali.
Menyikapi kondisi sepi sekarang ini, menurut Gableran, pihaknya
hanya bisa menunggu pasuh kalau ada gambelan masyarakat yang
rusak untuk diperbaiki. Mengingat, membuat gong yang baru
hampir tidak mampu dengan makin mahalnya harga. Di samping
itu, membuat kerajinan lainnya yang tidak terlalu banyak menghabiskan
bahan baku timah maupun tembaga. ‘’Pokoknya biar
bisa bertahan saja. Karena mahalnya harga gong membuat daya
beli konsumen juga turun,’’ terang I Made Radu,
perajin gong lainnya.
Menurutnya, sebelum krisis ekonomi pihaknya banyak mengekspor
gong ke pasar mancanegara. Terutama ke negara Eropa dan Amerika
Serikat. Ketika itu, omzetnya juga berlipat dengan ramainya
permintaan gong dari pasar mancanegara. Namun begitu ada krisis
ekonomi serta sepinya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara
ke Bali khususnya, kehidupan perajin gong makin terjepit.
*mur
|