Denpasar
(BisnisBali) -Mulai membaiknya pariwisata Bali awal
tahun ini membuat bank perkreditan rakyat (BPR) di Pulau Dewata
optimis mampu menurunkan angka kredit macet atau non perfoming
loan (NPL) dari 7,26 persen (gross) Desember 2006 menjadi
di bawah 5 persen pada semester I tahun ini. Perbaikan kondisi
pariwisata diperkirakan akan meningkatkan kemampuan membayar
para debitur dan daya serap kredit pelaku usaha mikro kecil
dan menengah (UMKM).
Demikian dikatakan Ketua Perbarindo Bali Made Arya Amitabha
di sela-sela pelatihan analisis risiko kredit mikro dan kecil
BPR di Sanur, Senin (19/2) kemarin. Arya menjelaskan, ada
sejumlah kebijakan yang bisa ditempuh untuk menekan angka
kredit macet seperti melakukan analisis kredit secara benar,
melakukan pendekatan dengan debitur, melakukan penjadwalan
utang dan penyitaan aset. Untuk sementara langkah penyitaan
aset debitur belum banyak ditempuh. “Mudah-mudahan dengan
pelatihan analisis kredit kepada SDM BPR ini akan efektif
untuk menekan terjadinya kesalahan dalam pengeluaran kredit,”
ujarnya.
Sementara Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Ketut Sanjaya mengharapkan,
momentum pemulihan pariwisata Bali yang mencatat rekor dalam
hal kunjungan wisatawan mancanegara Januari lalu harus dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya oleh pihak perbankan termasuk BPR. Salah
satu hal yang dapat dilakukan untuk menekan angka NPL adalah
dengan meningkatkan fungsi intermediasi. Ia mengingatkan kepada
BPR yang ada dalam menyalurkan kredit tetap mengedepankan
prinsip kehati-hatian.
Kepala Cabang Penanaman Nasional Madani (PNM) Bali I Nyoman
Wijana mengatakan akan terus mengintensifkan kerja sama yang
selama ini telah dibangun dengan BPR-BPR yang ada di Bali.
Selain mengadakan pelatihan untuk SDM BPR, PNM juga telah
bekerja sama dalam linkage program dengan sejumlah BPR. Tahun
ini PNM menyiapkan dana Rp 150 milyar untuk linkage program
ini. Jumlah ini meningkat signifikan dari tahun sebelumnya
yang hanya Rp 40 milyar. *bia
|