Gianyar
(BisnisBali) -Hingga kini, baru sebagian kecil bank
perkreditan rakyat (BPR) ikut ambil bagian dalam kegiatan
sinergi atau linkage program dengan bank-bank umum. BPR yang
belum ambil bagian dalam linkage program dengan bank umum,
kebanyakan BPR yang memiliki aset kecil yang masih mampu mengandalkan
modal sendiri dan dana pihak ketiga (DPK). Pemerhati ekonomi
mikro I Wayan Murja, S.E., M.M. di Gianyar, Senin (19/2) kemarin
menjelaskan, walaupun BPR yang belum linkage program asetnya
kecil, tetapi aset yang dimiliki ini sangat murni. Dikatakan,
belum linkage program-nya BPR dengan bank umum disebabkan
berbagai kemungkinan. Di antaranya, penerimaan dana dari masyarakat
dan modal sendiri yang dimiliki masih mampu memenuhi permintaan
kredit, BPR bersangkutan mungkin masih mengalami kesulitan
menyalurkan kredit sehingga belum mampu memperluas jaringan
penyaluran kredit, dan juga berbagai faktor lainnya.
Kendati demikian, kenyataan telah membuktikan, BPR-BPR yang
mengaku memiliki aset kecil telah mampu memenuhi Pokja Oktober
2006 seperti memenuhi modal setor sesuai ketentuan Arsitektur
Perbankan Indonesia (API) melebihi Rp 400 juta pada akhir
Desember 2006.
Melihat dan berangkat dari kondisi BPR seperti ini, para pengelola
BPR beraset kecil tidak perlu khawatir dan informasi yang
berhasil dikumpulkan. Kebanyakan BPR beraset kecil lambat
laun juga akan mengarah pada linkage program dengan bank umum.
“Bank Indonesia (BI) sudah memberi dorongan dan dukungan
penuh dalam kegiatan linkage program BPR dengan bank umum,’’
ujar Murja yang juga salah seorang komisaris BPR di Gianyar
dan juga Ketua Koperasi Ema Duta Mandiri Denpasar.
Menurut dia, meski kondisi ekonomi rakyat belum jelas dan
makin meningkatnya beberapa harga sembako seperti harga beras,
potensi usaha mikro untuk berubah menjadi usaha kecil dan
menengah (UMKM) sangat terbuka di Bali. Banyak celah yang
bisa dikembangkan usaha mikro supaya bisa menjadi usaha lebih
besar. *dra
|