Semarapura
(BisnisBali) -Animo masyarakat untuk naik kapal Roro
sangat tinggi. Meskipun cuaca buruk, kapal Roro tetap beroperasi,
bahkan penumpang kapal Roro memenuhi kapasitas kapal. Hal
tersebut sempat menjadi pertanyaan, kenapa kapal Roro tetap
beroperasi meskipun cuaca buruk? Kepala Unit Pelaksana Teknis
Dinas (KUPTD) I Dewa Gde Wisasta, S.H. saat diminta konfirmasi
BisnisBali, beberapa hari lalu mengatakan, pada saat cuaca
buruk, kapal Roro tetap beroperasi, sementara pada saat bersamaan
kapal yang hendak menuju Lombok dihentikan operasionalnya
untuk sementara memang menjadi pertanyaan besar. Dijelaskan,
kapal Roro tetap beroperasi dengan berbagai pertimbangan yang
ada. Hal tersebut tidak disebabkan jarak Padangbai-Nusa Penida
jauh lebih dekat dibandingkan jarak Padangbai-Lombok, melainkan
karena pertimbangan arus angin dan tingkat gelombang.
Menurut KUPTD yang akrab disapa Dewa Bima ini didampingi Kapten
Kapal Roro, untuk mengetahui cuaca buruk dan aman tidaknya
kapal tersebut menyeberang memang tidak mudah. Alat untuk
mengukur cuaca pun tidak ada. Namun, arah angin dan tingkat
gelombang masih dapat dipantau dengan perasaan. Menurut dia,
kecelakaan transportasi laut dan udara merupakan fenomena
alam yang sulit diprediksi oleh indra manusia. Gelombang air
yang tadinya rendah bisa tiba-tiba naik ketika kapal berada
di tengah-tengah lautan.
“Semua itu adalah kehendak-Nya. Jadi kita tidak bisa
menghindari kuasa-Nya.”tandas Dewa Bima.
Namun, lebih lanjut dikatakan, pihaknya bersedia menghentikan
operasional kapal Roro jika memang cuaca benar-benar tidak
memungkinkan. Sejauh ini, tambahnya, pihaknya selalu melakukan
komunikasi dengan bandar-bandar lain sehingga tidak terjadi
kelalaian sedikit pun khususnya masalah cuaca, arah angin
dan gelombang air laut.
Mengenai fasilitas keselamatan penumpang, Dewa Bima menjelaskan,
di setiap tempat duduk penumpang telah disediakan pelampung,
alat pemadam kebakaran di tempat-tempat tertentu, serta alat-alat
lain yang berfungsi untuk alat keselamatan penumpang yang
jumlahnya telah disesuaikan.
Terkait kapasitas penumpang, memang masih belum ditemukan
alat untuk mengukur tonase jumlah barang maupun penumpang.
Untuk menemukan alat tersebut, masih sedang diperbincangkan
di pusat, ada tidaknya jenis alat pengukur tonase untuk kapal
laut. Sementara sejauh ini pihaknya masih menggunakan standar
yang ada untuk mengukur kapasitas muatan agar tidak terjadi
overload. Dikatakan pula, untuk mengantisipasi bencana alam,
jika cuaca buruk, pihaknya selalu melakukan pengurangan muatan
kapal Roro.
Ke depannya, ia berharap agar dermaga pasangan Nusa Penida
di Klungkung dapat segera terealisasi mengingat animo masyarakat
untuk membebaskan Nusa Penida dari keterisoliran sangat tinggi.
Pihaknya juga meminta maaf karena tidak bisa memuaskan semua
penumpang Roro mengingat keselamatan penumpang jauh lebih
penting dari segalanya. *eka
|