Denpasar
(BisnisBali) –Bali yang sebelumnya dikenal
sebagai salah satu daerah tujuan pemasaran tanaman hias dari
Jawa, tampaknya kini mulai berubah. Pasalnya, kini sejumlah
pebisnis tanaman hias di Bali, telah mampu membudidayakan
sendiri dan bahkan sudah ada yang menjadi produsen untuk jenis
anthurium bagi pasar di Jawa. “Jawa kini malah menjadi
pasar potensial dari pemasaran jenis tanaman anthurium dari
Bali, jika dibandingkan dengan permintaan pasar terhadap jenis
tanaman yang sama,” kata Lugik, salah seorang penjual
tanaman hias, baru-baru ini.
Ia mengatakan, selama ini hasil dari pengembangan tanaman
jenis anthurium telah banyak beredar ke luar daerah seperti
di Malang. Dalam kurun waktu satu bulan saja, pasar luar daerah
ini, jumlah permintaannya mencapai 4.500 pohon anthurium dengan
berbagai jenis. Jumlah tersebut, kata Lugik, jauh lebih signifikan
jika dibandingkan dengan permintaan pasar lokal di Bali yang
hanya rata-rata 50 pot per bulan.
Menurut Lugik, untuk pasar di Jawa rata-rata anthurium yang
paling banyak diminati adalah jenis anthurium wef of love,
anthurium hookeri dan anthurium keris. Masing-masing jenis
anthurium ini, memiliki keunikan tersendiri dan mampu memikat
konsumen. Misalnya, jenis anthurium wef of love ini, memiliki
nilai lebih yakni kondisi daun yang bentuknya lebih besar
dengan bunga yang terbentuk dari kumpulan biji yang berwarna
ungu.
“Untuk jenis tanaman anthurium ini, ada dua yang cukup
memikat konsumen, yakni jenis anthurium yang menonjolkan warna
bunga dan kedua ada anthurium yang menonjolkan bentuk atau
ukuran daunnya saja,” ujarnya.
Selama ini, kata Lugik, segmen pasar dari beragam jenis anthurium
ini, kebanyakan memang datang dari kalangan kolektor tanaman
hias. Hal ini dikarenakan, harga jual untuk jenis tanaman
anthurium ini relatif mahal. Bayangkan saja, anthurium yang
bentuknya kecil harganya sudah mencapai Rp 50.000 per pot,
sedangkan untuk tanaman yang cukup besar harga bisa mencapai
jutaan rupiah per pot.
Soal perawatan, berbagai jenis anthurium ini cukup mudah.
Penghobi hanya tinggal menempatkan anthurium pada tempat yang
minim terkena sinar matahari langsung atau kondisi lembab,
maka daun akan tumbuh menghijau.
Ia menambahkan, untuk mengurangi sinar matahari ini bisa ditempuh
dengan menggunakan paranet di atas media tanam.
Sementara itu,Wijaya, salah seorang pebisnis tanaman hias
mengatakan, pemasaran dari anthurium ini masih cukup terbuka
dan tidak saja datang dari pasar lokal, tapi juga datang dari
luar daerah. Namun, untuk pemasaran ke luar daerah ini memerlukan
kiat khusus agar bisa bersaing dengan pebisnis tanaman hias
di daerah tersebut. Hal ini penting dilakukan, mengingat sejumlah
pebisnis tanaman hias di Bali masih sedikit yang memiliki
kemampuan untuk mendukung pemasaran ke luar daerah.
“Saat ini pemasaran anthurium cukup terbuka, apalagi
teknik budi daya tanaman tersebut cukup sederhana,”
katanya. *man