Denpasar
(BisnisBali) –Pemasaran lobster air tawar (LAT)
di Bali, dinilai cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan, Bali
merupakan salah satu daerah tujuan pariwisata dunia. Kondisi
ini tentu saja menyebabkan bisnis LAT di Bali memiliki prospek
yang cerah, apalagi saat ini permintaan LAT dari hotel dan
restoran cukup tinggi.
“Tingginya kebutuhan LAT di Bali, belum semuanya mampu
terpenuhi dengan baik dan berkesinambungan oleh produsen lokal.
Itu sebabnya, sejumlah konsumen akhirnya mendatangkan LAT
dari luar daerah,” kata Enaji, salah seorang pebisnis
LAT di Denpasar, Senin (19/2) kemarin.
Ia mengungkapkan, bisnis LAT di Bali cukup prospektif. Tak
mengherankan jika peluang bisnis LAT ini mulai memikat masyarakat
untuk menggeluti usaha di sektor ini. Hal ini dibuktikan,
dengan terus meningkatnya permintaan pasar lokal untuk benih
LAT belakangan ini. “Untuk pasar lokal Denpasar saja,
permintaan benih LAT ini bisa mencapai 2.000 ekor per bulan,”
katanya.
Soal harga jual benih LAT sendiri, Enaji menjelaskan cukup
bervariasi tergantung jenis kelamin dan ukuran benih yang
diminta. Misalnya, untuk ukuran 2 inci jantan, harganya sekitar
Rp 3.500 per ekor. Sementara harga benih LAT betina dengan
ukuran yang sama adalah Rp 7.500 per ekor.
Ia menambahkan, selain penjualan per ekor juga dijual calon
indukan LAT secara pasangan. Masing-masing harga jualnya untuk
ukuran 3 - 3,5 inci Rp 30.000 per pasang dan ukuran 4 - 4,5
inci dijual Rp 60.000 per pasang.
Menurut Enaji, untuk budi daya LAT ini prosesnya cukup mudah
dan sangat memungkinkan untuk ditekuni masyarakat awam. Namun,
yang penting untuk diperhatikan adalah pengairan yang digunakan
pada media budi daya harus terus mengalir. Hal ini dimaksudkan
untuk memacu pertumbuhan LAT dan pemenuhan oksigen dalam air.
Sementara itu, untuk media yang digunakan untuk LAT ini tidak
mesti berpatokan pada penggunaan kolam saja, namun juga bisa
digantikan dengan menggunakan akuarium. Namun, jika dilihat
dari segi hasil, menggunakan akuarium tentu jumlah produksinya
menjadi terbatas jika dibandingkan dengan produksi dengan
kolam.
“Bagi pemula, budi daya dengan akuarium bisa jadi upaya
pembelajaran sebelum nantinya mengarah ke skala industri LAT
besar-besaran,” katanya. *man