20 Februari 2007  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
LAT Potensial Dipasarkan di Bali
Denpasar (BisnisBali) –Pemasaran lobster air tawar (LAT) di Bali, dinilai cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan, Bali merupakan salah satu daerah tujuan pariwisata dunia. Kondisi ini tentu saja menyebabkan bisnis LAT di Bali memiliki prospek yang cerah, apalagi saat ini permintaan LAT dari hotel dan restoran cukup tinggi.
“Tingginya kebutuhan LAT di Bali, belum semuanya mampu terpenuhi dengan baik dan berkesinambungan oleh produsen lokal. Itu sebabnya, sejumlah konsumen akhirnya mendatangkan LAT dari luar daerah,” kata Enaji, salah seorang pebisnis LAT di Denpasar, Senin (19/2) kemarin.
Ia mengungkapkan, bisnis LAT di Bali cukup prospektif. Tak mengherankan jika peluang bisnis LAT ini mulai memikat masyarakat untuk menggeluti usaha di sektor ini. Hal ini dibuktikan, dengan terus meningkatnya permintaan pasar lokal untuk benih LAT belakangan ini. “Untuk pasar lokal Denpasar saja, permintaan benih LAT ini bisa mencapai 2.000 ekor per bulan,” katanya.
Soal harga jual benih LAT sendiri, Enaji menjelaskan cukup bervariasi tergantung jenis kelamin dan ukuran benih yang diminta. Misalnya, untuk ukuran 2 inci jantan, harganya sekitar Rp 3.500 per ekor. Sementara harga benih LAT betina dengan ukuran yang sama adalah Rp 7.500 per ekor.
Ia menambahkan, selain penjualan per ekor juga dijual calon indukan LAT secara pasangan. Masing-masing harga jualnya untuk ukuran 3 - 3,5 inci Rp 30.000 per pasang dan ukuran 4 - 4,5 inci dijual Rp 60.000 per pasang.
Menurut Enaji, untuk budi daya LAT ini prosesnya cukup mudah dan sangat memungkinkan untuk ditekuni masyarakat awam. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah pengairan yang digunakan pada media budi daya harus terus mengalir. Hal ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan LAT dan pemenuhan oksigen dalam air.
Sementara itu, untuk media yang digunakan untuk LAT ini tidak mesti berpatokan pada penggunaan kolam saja, namun juga bisa digantikan dengan menggunakan akuarium. Namun, jika dilihat dari segi hasil, menggunakan akuarium tentu jumlah produksinya menjadi terbatas jika dibandingkan dengan produksi dengan kolam.
“Bagi pemula, budi daya dengan akuarium bisa jadi upaya pembelajaran sebelum nantinya mengarah ke skala industri LAT besar-besaran,” katanya. *man

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost